Minggu, 19 Januari 2020

Family Talk - Persiapan menjadi Orangtua

Wow judul blognya persiapan menjadi orangtua! Apakah itu berarti saya sudah hamil?!
No, no. Belum saudara-saudara. Namun bagi saya (dan suami), 'menjadi orangtua' adalah sesuatu hal besar yang sudah harus kami persiapkan dari jauh hari baik dari segi finansial, fisik maupun mental.

Bahkan sejak sebelum menikah, saya dan Adri sudah berdiskusi tentang bagaimana visi dan misi untuk mendidik anak kelak. Secara garis besar, kami memiliki visi dan misi yang sama. Namun secara detail, tentu hal itu belum dibahas semasa pacaran dulu karena ya... masih kejauhan aja ngga sih? Hahaha. Jadi saat itu diskusinya lebih banyak seputar rumah tangga sebagai suami-istri, belum sebagai orangtua. Nah kalau sekarang kan udah jadi suami-istri, jadi obrolannya naik tingkat tentang mempersiapkan diri menjadi orangtua.

Bagi saya, menjadi orangtua adalah tanggungjawab yang amat sangat besar dan pertanggungjawabannya dunia akhirat. Lama banget kan! Buat ujian lulus jadi dokter gigi biar bisa ngurusin mulut orang aja, persiapannya harus matang. Apalagi ngurus manusia?

Karena itulah saya rajin baca-baca tulisan soal parenting walaupun masih via media sosial aja (blog dan Instagram). Nanti kalau sudah waktunya, naik level kok bacanya jurnal yang lebih berbobot dan buku-buku ilmiah hahaha. Dan makin banyak baca, makin yakin deh ngurus manusia itu ngga gampang sama sekali. Apalagi buat saya yang banyak maunya. Mau nanti kalau punya anak tetap bisa punya waktu cukup untuk me time, mau tetap punya banyak waktu sama anak tapi tetep bisa berkarya, mau tetap bisa liburan setiap tahun sekeluarga dengan dana pendidikan anak juga secure, mau ina ini itu banyak sekali! 

Persiapan memiliki dan mengurus anak tidak melulu seputar finansial. Malah dikasus saya kebanyakan yang saya persiapkan adalah 'mental' kami. Siap ngga nanti menempuh 'hidup baru' dengan segala ups and downsnya?

Saya sering berdiskusi dengan membawa 'contoh kasus' bersama Adri. Misal yang paling mungkin kejadian adalah kalau seandainya punya anak dan pendidikan spesialis saya belum selesai, siapa yang akan menjaga anaknya disaat saya harus sekolah dan dia juga harus bekerja? Bagaimana pandangan kami mengenai menitipkan anak di daycare saat orangtuanya lagi bekerja nanti? satu suara ngga kita?

Selain itu juga kami me-review cara orangtua kami mendidik kami. Apa yang ingin kami ambil? apa yang ingin kami improve? Apa yang ingin kami tinggalkan?

Hingga ke hal yang sebenernya masih jauh banget macam anak mau dimasukkin sekolah umur berapa? Sekolah apa yang kita mau nanti? mau negeri apa swasta? Mau kurikulum yang seperti apa? (Ini beneran loh dibahas sampe sejauh ini! anaknya aja belum ada lho hahaha). Kenapa sih yang jauh banget aja udah dibahas dari sekarang? Ya karena saya dari sekarang aja udah menabung buat dana pendidikan anak. Kalo sekolahnya udah tau mau kemana, kan nabungnya jadi lebih semangat karena punya target tertentu yang harus dicapai.

Bahkan soal kemungkinan buruk yang mungkin terjadi juga saya diskusikan dengan Adri dari sekarang semacam bagaimana nanti kalau saya kena baby blues atau postpartum depression? Seberapa jauh kamu tau soal itu? Gimana ya pencegahannya untuk meminimalisir kemungkinan itu? Atau misal saya, kamu atau bayinya sakit gimana? Atau bahkan yang terburuk sekalipun semacam... kalau ngga bisa punya anak, gimana? Mitigasinya mau kayak apa?

Intinya banyak, banyak banget hal yang sudah dan akan terus kami diskusikan untuk mempersiapkan ini semua. Dari soal sebelum hamilnya, pas hamilnya, pas anaknya udah keluar dan seterus-terusnya. Karena emang jadi suami-istri itu kerjaannya ngobrol terus sih, terlebih kalo istrinya doyan ngajak diskusi kayak saya hahaha.

Yah inti dari postingan ini adalah saya cuma mau merecord aja persiapan kami menjadi orangtua di blog saya yang super random ini aja. Salah satu catatan kecil akan perjalanan untuk menjawab pertanyaan pribadi saya mengenai ingin menjadi orangtua yang seperti apa kelak? Sudah melakukan apa saja untuk sampai kesana?

Well, walaupun udah banyak banget hal yang kami pikirkan, diskusikan dan rencanakan, namun disisi lain saya juga yakin akan 'manusia bisa berencana, tapi Tuhan yang menentukan'. Karena itu apabila memang itu terjadi nanti, paling tidak saya sudah mempersiapkan mental untuk menerima bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana kami, namun yang penting kami sudah berusaha. Ya ngga? :)

Selasa, 31 Desember 2019

Family Talk - Financial Planning

Adiós 2019, bienvenido 2020!

Di hari pertama 2020 ini, saya mau cerita soal financial planning. Jadi setelah maju-mundur mau pakai jasa financial planner sejak menikah, akhirnya di akhir Desember kemarin saya berhasil juga atur diskusi dengan salah satu financial blogger favorit saya yang saya temukan di Instagram.


Sebelumnya saya dan Adri sudah pernah mengikuti kelas finansial di @Cerdikmapan. Saya juga pernah ikut workshopnya @Jouska_id. Tapi rasanya kalau terlalu banyak orang dan ngga private, kurang puas aja gitu ngobrolnya jadi ilmunya juga kurang dapat. Nah kemarin, akhirnya untuk trial kami diskusi selama 2 jam untuk kemudian memutuskan apakah kami beneran butuh financial planner dalam jangka waktu panjang untuk mengatur keuangan kami?

Ternyata menurut mas Dani Rachmat, sebenernya kami ngga butuh financial planner karena basically udah cukup paham cara mengelola keuangan, namun masih butuh validasi. Jadilah selama 2 jam itu kami diajari cara menghitung perencanaan keuangan sendiri menggunakan microsoft excel yang mana sebenernya Adri juga cukup familiar sama rumus-rumus yang digunakan.

Lalu setelah dihitung-hitung, ternyata saya dan Adri butuh menabung sekitar 124 juta rupiah perbulan (diluar biaya hidup) kalau mau mencapai gaya hidup yang kami inginkan dimasa depan! LOL, gimana cara ngumpulinnya coba dimasa-masa sekolah ini? 😂

Akhirnya untuk mengurangi kepusingan yang emang belum perlu dipusingin sekarang, kami disarankan untuk menabung dan berinvestasi untuk memenuhi kebutuhan kami berdasarkan prioritas dulu. Oke deh challenge accepted!

Buat netizen yang mau baca-baca soal financial planning, I strongly recommend his blog (bisa klik langsung dinamanya yang udah kutulis diatas ya!) atau kalau mau pembahasan yang lebih ringan dulu tentang kenapa penting mengatur dan merencanakan keuangan keluarga, bisa klik blog mbak @Annisast ini ya!

Senin, 02 September 2019

Family Talk - Financial Priority

Beberapa waktu yang lalu, Adri tiba-tiba izin ke saya untuk menggunakan sebagian saving kami untuk modal bisnis yang akan dia jalankan bersama teman kami dan adiknya. Jujur saya ngga ngelarang dia untuk bisnis sama sekali, support sekali malah. Tapi berhubung lagi semangat-semangatnya belajar soal finansial, saya berkali-kali nanya dulu ke dia "kamu yakin? Udah dihitung semuanya kan?"

Bagi kami pasangan baru, tentu banyak sekali kebutuhan yang harus direncanakan dengan baik, dan bisnis baru dia ini tentu mengubah rencana finansial kami dimasa depan. Dari sebelum menikah kami sudah sepakat untuk hidup mandiri berdua dengan membiayai segala kebutuhan kami sendiri sebagai keluarga baru. Mulai dari renovasi rumah, mobil, sekolah, liburan, apapun itu, saya yakin kami berdua harus belajar untuk mengatur semuanya tanpa campur tangan pihak manapun. Kalau mengutip @annisast mungkin salah satu alasannya karena ini:

"Biar bisa memutuskan semua keputusan hidup sendiri juga, nggak ada intervensi atau perasaan nggak enak hati ngerasa harus gini atau gitu karena abis dikasih mobil misalnya."

Belajar dari pengalaman mengurus pernikahan saya yang sangat minim intervensi (dan jujur nikmat banget jadi super less drama!), prinsip ini juga kami terapkan dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari. Happy dan bangga rasanya bisa memutuskan apapun berdua aja, tapi tentu kepusingan juga mengikuti. Semua harus dihitung dan dipertimbangkan dengan baik.

Sekolah spesialis saya tentu membutuhkan uang yang tidak sedikit (that's why I still work after school and on weekend), begitupun kursus yang sedang Adri ambil untuk pengembangan dirinya. Selain itu, saya lagi getol-getolnya cari tahu soal invest reksadana dan saham sampai berkali-kali bujuk Adri untuk hire financial planner (yang jujur aja mahal ya hiks, tapi sebagai sesama penyedia jasa, saya pantang nawar karena saya tahu jasa itu emang mahal harganya karena susah dan lama belajarnya), tentu butuh pos 'uang nganggur' tersendiri untuk investasi tersebut.

Makanya saat tiba-tiba Adri mau bisnis dan butuh modal yang tidak sedikit, saya jadi lebih bawel dari biasanya, nanya-nanya prospek dll nya gimana sampai dia bilang saya kirim doa aja yang banyak sama percaya aja sama dia. Baiklah, laksanakan! Hahaha.

Akhirnya hari yang ditunggupun tiba. Minggu kemarin tanggal 1 September menjadi soft opening bisnis baru Adri, Salya Maintenance. Saya salut banget sih sama Adri. Bukan karena dia suami saya, tapi karena saya lihat sendiri kerja kerasnya dia setiap hari. Ngantor dari Senin sampe Jumat, terus setiap Sabtu ngambil kursus finansial, Minggunya sibuk ngerjain bisnisnya ini. Kapan istirahatnya ya? Saya ngeliatnya aja ngantuk.




Bagaimanapun hasilnya nanti, saya dan Adri melihat bisnis ini sebagai salah satu tempat untuk belajar juga. Untuk urusan pendidikan, kami berdua termasuk royal karena selalu percaya bahwa pendidikan yang baik justru akan meningkatkan taraf hidup. Saat ini masalah gaya hidup ditekan dulu tidak masalah (bye fancy holiday!), yang penting urusan sekolah bebas lancar tanpa hambatan. Dengan melihat bisnis baru ini sebagai tempat untuk belajar, saya jadi ngga terlalu pusing mikirin biaya yang sudah dikeluarkan. Kalau untung Alhamdulillah, kalau ngga ya udah kan buat belajar, pasti tetap bermanfaat #posithink.

Nah tapi biar belajarnya juga menghasilkan uang, boleh lho yang mau premium wash atau coating mobil dateng ke tempatnya Adri #ujungnyapromosi, hahaha. Ini alamatnya ya: 

Jl. Duren Tiga Utara I No.16, RT.4/RW.1, Duren Tiga, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12760.

Kindly tell me if you already try the service ya! Gracias 😘

Orthodontist Journey - IAO 14th Annual Meeting

Ngga terasa udah memasuki tahun ke-2 menjadi residen Ortodonti FKG UI yang berarti juga sudah saatnya menghadiri IAO annual meeting sebagai salah satu performer! Yup, para residen dari seluruh departemen orto dari berbagai universitas harus menari pada saat gala dinner saudara-saudara. Ini dia panggung tempat kami akan perform:


@Lapangan golf Palimanan, Surabaya

Jujur saya ngga bisa nari. Kaku banget kalau disuruh nari kayak robot. Untungnya pada persembahan sendratari kali ini, peran nari saya ngga signifikan-signifikan amat, cuma sebagai none Belanda yang mainan payung. Ngga kebayang sih kalau harus nari Betawi, kasihan yang ngeliat nanti karena goyangannya ngga bagus! Hahaha.






Persiapan narinya sendiri kurang lebih dilakukan selama 1,5 bulan dan dipersembahkan oleh gabungan 2 angkatan yaitu 2017 dan 2018.  Tahun ini merupakan tahun terakhir angkatan 2017 menari. Jadi untuk tahun depan, jatahnya 2018 dan 2019 untuk perform lagi di IAO. Siap-siap ya! Sampai ketemu lagi di IAO 15th Annual Meeting, Insya Allah :).

Senin, 29 Juli 2019

Tutorial Pasang Behel Sendiri di Rumah, Mungkinkah?

Beberapa waktu lalu saya baca postingan instagram kortugi mengenai maraknya kasus pemasangan behel yang dilakukan oleh tukang gigi maupun diri sendiri yang kemudian berakibat fatal pada kondisi kesehatan gigi dan mulut. Dari postingan instagram tersebut, saya iseng buka youtube dan search 'tutorial memasang behel' dan voila! Apa yang saya temukan??? Ada banyak sekali video mengenai pemasangan behel yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak kompeten dibidangnya. Berikut beberapa contoh videonya.



Asli, kaget banget sih. Udah gitu viewersnya bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan. Mungkin banget ngga sih yang nonton mempraktekkan tutorial menyesatkan tersebut?? Jujur udah lama sebenarnya saya ingin membuat materi edukasi berupa video youtube mengenai dunia perbehelan, namun waktunya belum ada dan risetnya belum cukup.

Kenapa ngga melalui instagram pribadi aja? Well, sebenernya kalau via instagram saya sudah cukup sering edukasi mengenai kesehatan gigi. Tapi mostly followers instagram saya adalah educated person yang sudah cukup paham mengenai hal ini jadi kemungkinan besar ngga ada lah ya yang beli atau pasang behel sembarangan selain di dokter gigi.

Kalau blog gimana? Hmm... asumsi saya, banyak orang yang males baca. Makin saya jelaskan panjang lebar, makin males dibaca. Makanya video youtube adalah media yang paling efektif saat ini untuk menjangkau random viewers yang ingin tahu soal dunia perbehelan. Tapi sayangnya saya belum tahu bisa mulai kapan membuat videonya.

Oke back to topic. Memasang behel sendiri di rumah, mungkinkah?

Jawabannya, jelas tidak mungkin!! Pemasangan segala komponen yang terdapat pada behel itu mempunyai tujuan spesifik masing-masing. Misalnya saja, kawat yang digunakan pada perawatan behel berfungsi untuk merapikan/meratakan posisi gigi baik dari arah vertikal maupun horizontal. Diameter maupun jenis kawatnya pun berbeda-beda dan semuanya digunakan berurutan sesuai dengan kebutuhan.

Selain itu posisi bracket yang dipasang pada gigi juga tidak boleh asal tempel. Posisi bracket sangat penting untuk menentukan posisi gigi, apakah giginya mau dibuat mendekati bibir (ekstrusi) atau mendekati gusi (intrusi). Bahkan posisi akar yang tidak bisa dilihat mata secara langsung juga dipengaruhi oleh posisi bracket. Nah apakah tukang gigi atau orang awam mengerti soal ini? Saya yakin 100% tidak paham.

Bagaimana dengan karet behel seperti yang ada pada contoh video ke-2 diatas? Apakah boleh pasang sendiri juga di rumah?? lagi-lagi jawabannya adalah tidak boleh! Seperti halnya kawat, karet behel juga tersedia dalam berbagai jenis. Setiap jenis memiliki fungsinya masing-masing seperti misalnya power chain yang tampak pada video kedua, berfungsi untuk merapatkan gigi dan ia akan saling tarik menarik satu sama lainnya. Apabila sembarangan dipakai tanpa mengetahui efeknya, bisa jadi gigi kamu malah melebar seperti gambar dibawah ini:


Sumber gambar: IG @kortugi

Nah, sekarang kebayang ngga apa efeknya pasang behel sendiri tanpa pengawasan dari dokter gigi spesialis ortodonti? Yang ada posisi gigi kamu bisa malah makin berantakan dan kondisi kesehatan gigi dan mulut juga memburuk. 

Karena itu jangan pernah berani untuk melakukan perawatan pemasangan behel di tukang gigi maupun diri sendiri ya!

Tips Pertanyaan Basa-basi Pada Orang Yang Baru Menikah

I've been married for 4 months yet losing counts on how many times people ask me "udah isi?' or "kapan isi?" every time they see me somewhere.

To be frank, I don't mind at all with that question but deep inside I've always wondering why don't they ask something more interesting rather than bothering what's inside my belly. Anyway... judulnya bahasa Indonesia tapi kenapa mendadak nulis isinya jadi bahasa Inggris yah hahaha. Intinya, saya bingung aja gitu kenapa ya orang yang ngga kenal-kenal amat atau ngga deket-deket amat kalau ketemu dan tahu kalau belum lama nikah gitu basa-basinya nanya kapan punya bayi? Padahal menurut saya banyak pertanyaan yang ngga kalah menarik yang bisa di explore dari newlyweds.

Yaa kebanyakan yang nanya seperti itu memang ibu-ibu yang rata-rata udah beranak siih, kalau bapak-bapak jarang banget nanya soal itu. Mungkin mereka nanya seperti itu juga ngga ada maksud apa-apa, kepo-kepo amat juga ngga, jadi murni basa-basi aja karena ngga tau mau ngomongin apa. Cuma kalau kebetulan yang ditanyain kayak gitu sebenernya pengen banget punya anak tapi belum dikasih rezekinya kan pasti sedih juga ya ditanyain terus-menerus? Apalagi kalau abis nanya terus nyerocos berujung kasih nasehat (tanpa diminta) "makanya jangan capek-capek... makanya jangan kerja terus... makanya jangan...." kan jadinya berasa awkward banget dan mungkin aja malah bikin kepikiran?

Kalau buat saya pribadi, sampai detik ini setiap ditanya hal pribadi seperti itu ya saya jawab aja lengkap dengan penjelasannya kenapa belum hamil. Kenapa mesti repot-repot ngejelasin segala? Soalnya kalau ngga dijelasin ya nanti bisa seperti contoh diatas, auto dikasih nasihat tanpa diminta. Jujur rasanya sebenernya ngga sebel sama sekali kok ditanya begitu, saya menganggap itu salah satu bentuk perhatian yang dinyatakan dengan cara yang kurang penting. Tapi ngga tau juga bakal jadi sebel ngga ya kalau misal ditanya sampe ribuan kali nanti? 

Karena itu buat kamu-kamu yang termasuk salah satu orang yang bingung harus nanya apa ke orang yang baru menikah kalau misal ketemu atau ngga sengaja papasan, mungkin list pertanyaan basa-basi dibawah ini bisa membantu kamu dalam memecah keheningan atau situasi awkward yang terjadi:

- Gimana kabarnya sekarang?
- Gimana rasanya nikaah? Apa aja nih yang beda dari sebelum sama sesudah menikah?
- Lagi sibuk apa aja nih sekarang?

Nah kayaknya kalau cuma untuk basa-basi, 3 pertanyaan diatas cukuplah ya daripada harus nanya 'kapan isi' terus? Toh pertanyaan selanjutnya bisa bercabang dari jawaban yang diberikan nanti. Oke deh selamat berbasa-basi netizen! Semoga pertanyaan yang diajukan pada orang yang baru menikah bisa lebih cerdas ya dibanding ngurusin kapan orang tersebut beranak pinak :).

Senin, 22 Juli 2019

Thoughts On Online Braces

Akhir-akhir ini saya mendapat beberapa DM di instagram saya yang menanyakan soal online braces yang sedang marak iklannya saat ini. Online braces tuh yang kayak apa sih? Nah... ini juga agak luas sih pengertiannya. Saya pernah singgung mengenai ini di insta story saya yang kemudian saya taruh di highlights agar orang bisa baca lagi sewaktu-waktu.

Intinya istilah online braces itu buat saya adalah alat untuk merapikan gigi yang dijual online di internet tanpa ada intervensi penuh dari dokter gigi. Bentuknya bisa macam-macam seperti yang akan saya lampirkan pada gambar dibawah ini. Untuk sumber gambarnya bisa langsung klik tulisan dibawahnya yaa.

Gambar terkait

Gambar terkait

Hasil gambar untuk online braces

Sebelum menulis lebih lanjut, saya mau kasih disclaimer dulu bahwa apa yang saya tulis disini murni pendapat saya pribadi sebagai dokter gigi tanpa mewakili institusi apapun. Selain itu artikel ini juga ditujukan untuk orang awam (dalam hal ini dari bidang non medis) sehingga bahasa medis yang digunakan akan dibuat sesederhana dan sejelas mungkin.

Seperti yang telah disebutkan diatas, online braces itu bentuknya bermacam-macam, namun intinya itu adalah alat untuk merapikan gigi yang dijual online di internet tanpa ada intervensi penuh dari dokter gigi. Cara pembeliannya pun bermacam-macam, ada yang tinggal pilih di online shopnya lalu langsung beli-bayar-pakai tanpa prosedur ribet (seperti teeth trainer dan removable braces), ada juga yang prosedurnya agak panjang seperti misalnya pembeli diharusnya mencetak giginya terlebih dulu dan mengirimkan foto giginya ke sang penjual alat, lalu nanti 'katanya' partner penjual alatnya (yang katanya di cek oleh dokter gigi) akan mengobservasi apakah memungkinkan gigi si pembeli dipasangi clear braces seperti gambar diatas. Kalau memungkinkan, maka clear braces tersebut akan dikirimkan ke pembeli dan pembeli bisa meratakan gigi dengan alat tersebut dalam waktu kurang lebih 6 bulan sampai gigi rata.

Terdengar mudah ya?
...dan 'katanya' murah?

:)

Well, it seems too good to be true...
But, it's not.

Pada umumnya, terdapat prosedur panjang yang harus dilalui oleh seorang pasien yang akan mendapatkan perawatan ortodonti untuk merapikan gigi yang hanya boleh dilakukan oleh dokter gigi yang berkompeten dibidangnya (dokter gigi spesialis ortodonti). Prosedur tersebut diantaranya berupa anamnesis (tanya jawab dengan pasien), pengambilan alat diagnostik pasien (seperti foto intra-ekstra oral pasien, foto rontgen, dan model studi), serta pemeriksaan langsung kondisi gigi dan mulut pasien. Hal-hal tersebut dilakukan untuk menentukan diagnosis kasus sehingga dokter gigi bisa merencanakan langkah perawatan terbaik untuk pasien.

Nah bagaimana caranya hal tersebut bisa tercapai apabila semuanya dilakukan online? Lalu nanti ada pihak yang menjawab "itu kan dikirimin cetakan gigi buat cetak sendiri terus pasien juga disuruh kirim foto!".

Hmmm... yakin pasien bisa mencetak giginya sendiri hingga semua bagian yang diperlukan untuk observasi dapat terlihat? yakin kalau dari foto kiriman pasien penyakit-penyakit gigi mulut dapat diidentifikasi semua? Karies proximal gimana? Penyakit periodontal? Gigi impaksi gimana? Supernumerary?

Lalu... coba sebelum membeli produknya baca syarat dan ketentuan yang mereka berikan. Intinya, semua resiko ditanggung pembeli. Jadi apabila hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada saat pemakaian, pihak penjual lepas tanggung jawab :).

Sekilas memang terlihat mudah dan menghemat waktu karena tidak perlu ke dokter gigi. Namun mau dipikir seperti apapun, buat saya tidak masuk akal melakukan perawatan ortodonti tanpa konsul ke dokter gigi spesialis ortodonti terlebih dahulu. Seandainya terjadi komplikasi dari perawatan, kan ujung-ujungnya jadi harus bolak-balik ke dokter gigi juga untuk memperbaikinya. Ujung-ujungnya jadi ribet dan menyita waktu. Kalau soal murah/mahal, itu relatif ya, karena menurut saya apa yang mereka tawarkan tidak murah juga. Malah lagi-lagi bila terjadi komplikasi, bisa jadi perawatan yang dilakukan akan jauh lebih mahal.

Intinya sebagai dokter gigi, saat ini saya tidak merekomendasikan masyarakat untuk merapikan gigi dengan online braces atas dasar ketidakjelasan prosedur dan tanggung jawab perawatan. Nanti apabila ilmu saya sudah bertambah, mungkin saya akan membahas lebih detail lagi mengenai hal ini. Namun apabila ada yang penasaran dan ingin mencari tahu lebih lanjut, mungkin artikel iniini dan ini bisa membantu. Silakan di klik sendiri yaa! :)

For every half, there's a whole. For every hand, there's one to hold. For every poem, there's a meaning & every chance starts with believing