Senin, 02 September 2019

Family Talk - Financial Priority

Beberapa waktu yang lalu, Adri tiba-tiba izin ke saya untuk menggunakan sebagian saving kami untuk modal bisnis yang akan dia jalankan bersama teman kami dan adiknya. Jujur saya ngga ngelarang dia untuk bisnis sama sekali, support sekali malah. Tapi berhubung lagi semangat-semangatnya belajar soal finansial, saya berkali-kali nanya dulu ke dia "kamu yakin? Udah dihitung semuanya kan?"

Bagi kami pasangan baru, tentu banyak sekali kebutuhan yang harus direncanakan dengan baik, dan bisnis baru dia ini tentu mengubah rencana finansial kami dimasa depan. Dari sebelum menikah kami sudah sepakat untuk hidup mandiri berdua dengan membiayai segala kebutuhan kami sendiri sebagai keluarga baru. Mulai dari renovasi rumah, mobil, sekolah, liburan, apapun itu, saya yakin kami berdua harus belajar untuk mengatur semuanya tanpa campur tangan pihak manapun. Kalau mengutip @annisast mungkin salah satu alasannya karena ini:

"Biar bisa memutuskan semua keputusan hidup sendiri juga, nggak ada intervensi atau perasaan nggak enak hati ngerasa harus gini atau gitu karena abis dikasih mobil misalnya."

Belajar dari pengalaman mengurus pernikahan saya yang sangat minim intervensi (dan jujur nikmat banget jadi super less drama!), prinsip ini juga kami terapkan dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari. Happy dan bangga rasanya bisa memutuskan apapun berdua aja, tapi tentu kepusingan juga mengikuti. Semua harus dihitung dan dipertimbangkan dengan baik.

Sekolah spesialis saya tentu membutuhkan uang yang tidak sedikit (that's why I still work after school and on weekend), begitupun kursus yang sedang Adri ambil untuk pengembangan dirinya. Selain itu, saya lagi getol-getolnya cari tahu soal invest reksadana dan saham sampai berkali-kali bujuk Adri untuk hire financial planner (yang jujur aja mahal ya hiks, tapi sebagai sesama penyedia jasa, saya pantang nawar karena saya tahu jasa itu emang mahal harganya karena susah dan lama belajarnya), tentu butuh pos 'uang nganggur' tersendiri untuk investasi tersebut.

Makanya saat tiba-tiba Adri mau bisnis dan butuh modal yang tidak sedikit, saya jadi lebih bawel dari biasanya, nanya-nanya prospek dll nya gimana sampai dia bilang saya kirim doa aja yang banyak sama percaya aja sama dia. Baiklah, laksanakan! Hahaha.

Akhirnya hari yang ditunggupun tiba. Minggu kemarin tanggal 1 September menjadi soft opening bisnis baru Adri, Salya Maintenance. Saya salut banget sih sama Adri. Bukan karena dia suami saya, tapi karena saya lihat sendiri kerja kerasnya dia setiap hari. Ngantor dari Senin sampe Jumat, terus setiap Sabtu ngambil kursus finansial, Minggunya sibuk ngerjain bisnisnya ini. Kapan istirahatnya ya? Saya ngeliatnya aja ngantuk.




Bagaimanapun hasilnya nanti, saya dan Adri melihat bisnis ini sebagai salah satu tempat untuk belajar juga. Untuk urusan pendidikan, kami berdua termasuk royal karena selalu percaya bahwa pendidikan yang baik justru akan meningkatkan taraf hidup. Saat ini masalah gaya hidup ditekan dulu tidak masalah (bye fancy holiday!), yang penting urusan sekolah bebas lancar tanpa hambatan. Dengan melihat bisnis baru ini sebagai tempat untuk belajar, saya jadi ngga terlalu pusing mikirin biaya yang sudah dikeluarkan. Kalau untung Alhamdulillah, kalau ngga ya udah kan buat belajar, pasti tetap bermanfaat #posithink.

Nah tapi biar belajarnya juga menghasilkan uang, boleh lho yang mau premium wash atau coating mobil dateng ke tempatnya Adri #ujungnyapromosi, hahaha. Ini alamatnya ya: 

Jl. Duren Tiga Utara I No.16, RT.4/RW.1, Duren Tiga, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12760.

Kindly tell me if you already try the service ya! Gracias 😘

Orthodontist Journey - IAO 14th Annual Meeting

Ngga terasa udah memasuki tahun ke-2 menjadi residen Ortodonti FKG UI yang berarti juga sudah saatnya menghadiri IAO annual meeting sebagai salah satu performer! Yup, para residen dari seluruh departemen orto dari berbagai universitas harus menari pada saat gala dinner saudara-saudara. Ini dia panggung tempat kami akan perform:


@Lapangan golf Palimanan, Surabaya

Jujur saya ngga bisa nari. Kaku banget kalau disuruh nari kayak robot. Untungnya pada persembahan sendratari kali ini, peran nari saya ngga signifikan-signifikan amat, cuma sebagai none Belanda yang mainan payung. Ngga kebayang sih kalau harus nari Betawi, kasihan yang ngeliat nanti karena goyangannya ngga bagus! Hahaha.






Persiapan narinya sendiri kurang lebih dilakukan selama 1,5 bulan dan dipersembahkan oleh gabungan 2 angkatan yaitu 2017 dan 2018.  Tahun ini merupakan tahun terakhir angkatan 2017 menari. Jadi untuk tahun depan, jatahnya 2018 dan 2019 untuk perform lagi di IAO. Siap-siap ya! Sampai ketemu lagi di IAO 15th Annual Meeting, Insya Allah :).

Senin, 29 Juli 2019

Tutorial Pasang Behel Sendiri di Rumah, Mungkinkah?

Beberapa waktu lalu saya baca postingan instagram kortugi mengenai maraknya kasus pemasangan behel yang dilakukan oleh tukang gigi maupun diri sendiri yang kemudian berakibat fatal pada kondisi kesehatan gigi dan mulut. Dari postingan instagram tersebut, saya iseng buka youtube dan search 'tutorial memasang behel' dan voila! Apa yang saya temukan??? Ada banyak sekali video mengenai pemasangan behel yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak kompeten dibidangnya. Berikut beberapa contoh videonya.



Asli, kaget banget sih. Udah gitu viewersnya bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan. Mungkin banget ngga sih yang nonton mempraktekkan tutorial menyesatkan tersebut?? Jujur udah lama sebenarnya saya ingin membuat materi edukasi berupa video youtube mengenai dunia perbehelan, namun waktunya belum ada dan risetnya belum cukup.

Kenapa ngga melalui instagram pribadi aja? Well, sebenernya kalau via instagram saya sudah cukup sering edukasi mengenai kesehatan gigi. Tapi mostly followers instagram saya adalah educated person yang sudah cukup paham mengenai hal ini jadi kemungkinan besar ngga ada lah ya yang beli atau pasang behel sembarangan selain di dokter gigi.

Kalau blog gimana? Hmm... asumsi saya, banyak orang yang males baca. Makin saya jelaskan panjang lebar, makin males dibaca. Makanya video youtube adalah media yang paling efektif saat ini untuk menjangkau random viewers yang ingin tahu soal dunia perbehelan. Tapi sayangnya saya belum tahu bisa mulai kapan membuat videonya.

Oke back to topic. Memasang behel sendiri di rumah, mungkinkah?

Jawabannya, jelas tidak mungkin!! Pemasangan segala komponen yang terdapat pada behel itu mempunyai tujuan spesifik masing-masing. Misalnya saja, kawat yang digunakan pada perawatan behel berfungsi untuk merapikan/meratakan posisi gigi baik dari arah vertikal maupun horizontal. Diameter maupun jenis kawatnya pun berbeda-beda dan semuanya digunakan berurutan sesuai dengan kebutuhan.

Selain itu posisi bracket yang dipasang pada gigi juga tidak boleh asal tempel. Posisi bracket sangat penting untuk menentukan posisi gigi, apakah giginya mau dibuat mendekati bibir (ekstrusi) atau mendekati gusi (intrusi). Bahkan posisi akar yang tidak bisa dilihat mata secara langsung juga dipengaruhi oleh posisi bracket. Nah apakah tukang gigi atau orang awam mengerti soal ini? Saya yakin 100% tidak paham.

Bagaimana dengan karet behel seperti yang ada pada contoh video ke-2 diatas? Apakah boleh pasang sendiri juga di rumah?? lagi-lagi jawabannya adalah tidak boleh! Seperti halnya kawat, karet behel juga tersedia dalam berbagai jenis. Setiap jenis memiliki fungsinya masing-masing seperti misalnya power chain yang tampak pada video kedua, berfungsi untuk merapatkan gigi dan ia akan saling tarik menarik satu sama lainnya. Apabila sembarangan dipakai tanpa mengetahui efeknya, bisa jadi gigi kamu malah melebar seperti gambar dibawah ini:


Sumber gambar: IG @kortugi

Nah, sekarang kebayang ngga apa efeknya pasang behel sendiri tanpa pengawasan dari dokter gigi spesialis ortodonti? Yang ada posisi gigi kamu bisa malah makin berantakan dan kondisi kesehatan gigi dan mulut juga memburuk. 

Karena itu jangan pernah berani untuk melakukan perawatan pemasangan behel di tukang gigi maupun diri sendiri ya!

Tips Pertanyaan Basa-basi Pada Orang Yang Baru Menikah

I've been married for 4 months yet losing counts on how many times people ask me "udah isi?' or "kapan isi?" every time they see me somewhere.

To be frank, I don't mind at all with that question but deep inside I've always wondering why don't they ask something more interesting rather than bothering what's inside my belly. Anyway... judulnya bahasa Indonesia tapi kenapa mendadak nulis isinya jadi bahasa Inggris yah hahaha. Intinya, saya bingung aja gitu kenapa ya orang yang ngga kenal-kenal amat atau ngga deket-deket amat kalau ketemu dan tahu kalau belum lama nikah gitu basa-basinya nanya kapan punya bayi? Padahal menurut saya banyak pertanyaan yang ngga kalah menarik yang bisa di explore dari newlyweds.

Yaa kebanyakan yang nanya seperti itu memang ibu-ibu yang rata-rata udah beranak siih, kalau bapak-bapak jarang banget nanya soal itu. Mungkin mereka nanya seperti itu juga ngga ada maksud apa-apa, kepo-kepo amat juga ngga, jadi murni basa-basi aja karena ngga tau mau ngomongin apa. Cuma kalau kebetulan yang ditanyain kayak gitu sebenernya pengen banget punya anak tapi belum dikasih rezekinya kan pasti sedih juga ya ditanyain terus-menerus? Apalagi kalau abis nanya terus nyerocos berujung kasih nasehat (tanpa diminta) "makanya jangan capek-capek... makanya jangan kerja terus... makanya jangan...." kan jadinya berasa awkward banget dan mungkin aja malah bikin kepikiran?

Kalau buat saya pribadi, sampai detik ini setiap ditanya hal pribadi seperti itu ya saya jawab aja lengkap dengan penjelasannya kenapa belum hamil. Kenapa mesti repot-repot ngejelasin segala? Soalnya kalau ngga dijelasin ya nanti bisa seperti contoh diatas, auto dikasih nasihat tanpa diminta. Jujur rasanya sebenernya ngga sebel sama sekali kok ditanya begitu, saya menganggap itu salah satu bentuk perhatian yang dinyatakan dengan cara yang kurang penting. Tapi ngga tau juga bakal jadi sebel ngga ya kalau misal ditanya sampe ribuan kali nanti? 

Karena itu buat kamu-kamu yang termasuk salah satu orang yang bingung harus nanya apa ke orang yang baru menikah kalau misal ketemu atau ngga sengaja papasan, mungkin list pertanyaan basa-basi dibawah ini bisa membantu kamu dalam memecah keheningan atau situasi awkward yang terjadi:

- Gimana kabarnya sekarang?
- Gimana rasanya nikaah? Apa aja nih yang beda dari sebelum sama sesudah menikah?
- Lagi sibuk apa aja nih sekarang?

Nah kayaknya kalau cuma untuk basa-basi, 3 pertanyaan diatas cukuplah ya daripada harus nanya 'kapan isi' terus? Toh pertanyaan selanjutnya bisa bercabang dari jawaban yang diberikan nanti. Oke deh selamat berbasa-basi netizen! Semoga pertanyaan yang diajukan pada orang yang baru menikah bisa lebih cerdas ya dibanding ngurusin kapan orang tersebut beranak pinak :).

Senin, 22 Juli 2019

Thoughts On Online Braces

Akhir-akhir ini saya mendapat beberapa DM di instagram saya yang menanyakan soal online braces yang sedang marak iklannya saat ini. Online braces tuh yang kayak apa sih? Nah... ini juga agak luas sih pengertiannya. Saya pernah singgung mengenai ini di insta story saya yang kemudian saya taruh di highlights agar orang bisa baca lagi sewaktu-waktu.

Intinya istilah online braces itu buat saya adalah alat untuk merapikan gigi yang dijual online di internet tanpa ada intervensi penuh dari dokter gigi. Bentuknya bisa macam-macam seperti yang akan saya lampirkan pada gambar dibawah ini. Untuk sumber gambarnya bisa langsung klik tulisan dibawahnya yaa.

Gambar terkait

Gambar terkait

Hasil gambar untuk online braces

Sebelum menulis lebih lanjut, saya mau kasih disclaimer dulu bahwa apa yang saya tulis disini murni pendapat saya pribadi sebagai dokter gigi tanpa mewakili institusi apapun. Selain itu artikel ini juga ditujukan untuk orang awam (dalam hal ini dari bidang non medis) sehingga bahasa medis yang digunakan akan dibuat sesederhana dan sejelas mungkin.

Seperti yang telah disebutkan diatas, online braces itu bentuknya bermacam-macam, namun intinya itu adalah alat untuk merapikan gigi yang dijual online di internet tanpa ada intervensi penuh dari dokter gigi. Cara pembeliannya pun bermacam-macam, ada yang tinggal pilih di online shopnya lalu langsung beli-bayar-pakai tanpa prosedur ribet (seperti teeth trainer dan removable braces), ada juga yang prosedurnya agak panjang seperti misalnya pembeli diharusnya mencetak giginya terlebih dulu dan mengirimkan foto giginya ke sang penjual alat, lalu nanti 'katanya' partner penjual alatnya (yang katanya di cek oleh dokter gigi) akan mengobservasi apakah memungkinkan gigi si pembeli dipasangi clear braces seperti gambar diatas. Kalau memungkinkan, maka clear braces tersebut akan dikirimkan ke pembeli dan pembeli bisa meratakan gigi dengan alat tersebut dalam waktu kurang lebih 6 bulan sampai gigi rata.

Terdengar mudah ya?
...dan 'katanya' murah?

:)

Well, it seems too good to be true...
But, it's not.

Pada umumnya, terdapat prosedur panjang yang harus dilalui oleh seorang pasien yang akan mendapatkan perawatan ortodonti untuk merapikan gigi yang hanya boleh dilakukan oleh dokter gigi yang berkompeten dibidangnya (dokter gigi spesialis ortodonti). Prosedur tersebut diantaranya berupa anamnesis (tanya jawab dengan pasien), pengambilan alat diagnostik pasien (seperti foto intra-ekstra oral pasien, foto rontgen, dan model studi), serta pemeriksaan langsung kondisi gigi dan mulut pasien. Hal-hal tersebut dilakukan untuk menentukan diagnosis kasus sehingga dokter gigi bisa merencanakan langkah perawatan terbaik untuk pasien.

Nah bagaimana caranya hal tersebut bisa tercapai apabila semuanya dilakukan online? Lalu nanti ada pihak yang menjawab "itu kan dikirimin cetakan gigi buat cetak sendiri terus pasien juga disuruh kirim foto!".

Hmmm... yakin pasien bisa mencetak giginya sendiri hingga semua bagian yang diperlukan untuk observasi dapat terlihat? yakin kalau dari foto kiriman pasien penyakit-penyakit gigi mulut dapat diidentifikasi semua? Karies proximal gimana? Penyakit periodontal? Gigi impaksi gimana? Supernumerary?

Lalu... coba sebelum membeli produknya baca syarat dan ketentuan yang mereka berikan. Intinya, semua resiko ditanggung pembeli. Jadi apabila hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada saat pemakaian, pihak penjual lepas tanggung jawab :).

Sekilas memang terlihat mudah dan menghemat waktu karena tidak perlu ke dokter gigi. Namun mau dipikir seperti apapun, buat saya tidak masuk akal melakukan perawatan ortodonti tanpa konsul ke dokter gigi spesialis ortodonti terlebih dahulu. Seandainya terjadi komplikasi dari perawatan, kan ujung-ujungnya jadi harus bolak-balik ke dokter gigi juga untuk memperbaikinya. Ujung-ujungnya jadi ribet dan menyita waktu. Kalau soal murah/mahal, itu relatif ya, karena menurut saya apa yang mereka tawarkan tidak murah juga. Malah lagi-lagi bila terjadi komplikasi, bisa jadi perawatan yang dilakukan akan jauh lebih mahal.

Intinya sebagai dokter gigi, saat ini saya tidak merekomendasikan masyarakat untuk merapikan gigi dengan online braces atas dasar ketidakjelasan prosedur dan tanggung jawab perawatan. Nanti apabila ilmu saya sudah bertambah, mungkin saya akan membahas lebih detail lagi mengenai hal ini. Namun apabila ada yang penasaran dan ingin mencari tahu lebih lanjut, mungkin artikel iniini dan ini bisa membantu. Silakan di klik sendiri yaa! :)

Sabtu, 20 Juli 2019

Personal Journey - Marriage Preparation (2)

Seperti yang sudah pernah dibahas di postingan sebelumnya, saya dan Adri bukanlah pasangan yang terlalu memusingkan bagaimana resepsi pernikahan kami akan berjalan. Instead, we talk more about how to live life after marriage. 


Orang tua saya pernah bilang bahwa salah satu hal yang sering menjadi topik konflik dalam sebuah keluarga hingga dapat menyebabkan perceraian adalah masalah finansial. Ditambah lagi sebelum saya menikah, saya banyak membaca cerita mengenai hubungan keluarga yang hancur lebur karena pengelolaan finansial yang buruk (misal hutang pribadi, hutang keluarga yang menyebabkan bangkrut, even mau nikah aja hutang hanya karena gengsi jadinya habis menikah malah pusing membayar hutang), sehingga untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dimasa depan, kami banyak membahas topik ini dalam segala kesempatan. Selain topik finansial yang sering dianggap tabu dibicarakan pada masa pacaran, saya juga membahas banyak hal soal masa depan kami berdua seperti misalnya  soal anak, impian pribadi hingga impian berdua yang ingin dicapai dimasa depan.

Topik Seputar Finansial

Menurut saya pribadi, penting rasanya untuk membahas ini bagi pasangan yang berencana untuk menikah. Kenapa harus dibahas sebelum menikah? Agar kalau belum terjadi kesepakatan, semuanya bisa dibicarakan dan direncanakan sebelum menikah. Apa saja poin yang harus dibicarakan? Nah apa yang saya tulis disini murni opini saya ya dan bukan pendapat expert karena background saya dokter gigi dan bukan financial planner/advisor hehehe.

Menurut saya beberapa hal soal finansial yang harus sudah diketahui dan disepakati bersama sebelum menikah adalah:
1. Penghasilan pribadi
2. Aset pribadi
3. Hutang pribadi dan atau keluarga (in case ternyata salah satu ada yang harus ikut membayar hutang keluarga)
4. Gaya hidup saat ini atau rata-rata pengeluaran bulanan pribadi
5. Cicilan
6. Rencana pengeluaran dimasa depan yang sudah direncakan dari sekarang (misal rencana sekolah lagi, liburan)
7. Ekspektasi gaya hidup yang bisa ditolerir setelah berumah tangga
8. Tanggungan diluar pasangan setelah berumah tangga (misal harus membantu adik sekolah, kehidupan orang tua)
9. Pembagian/pengaturan/pengelolaan keuangan setelah berumah tangga

Hmm apa lagi ya? Sementara itu dulu yang saya ingat. Nanti kalau ada lagi, saya update postingannya. Saya bersyukur mendapatkan pasangan yang open for discussion soal masalah-masalah diatas karena banyak teman saya yang ternyata tidak membicarakan soal finansial secara detail dengan pasangannya sehingga setelah menikah muncul masalah-masalah baru yang ditemukan seputar ini.

Dengan membicarakan hal-hal diatas sebelum menikah, saya dan Adri jadi tahu bahwa kami sempat memiliki perbedaan pendapat soal bagaimana pengelolaan keuangan pasca menikah. Begitupun juga dengan ekspektasi gaya hidup yang mungkin berubah pasca menikah. Karena yang namanya keluarga baru, pasti mendadak pos tabungan bersamanya jadi banyak seperti misalnya pos haji bersama, pos pendidikan anak nanti, pos pendidikan pribadi kami, pos rumah masa depan, dan banyak lainnya yang mengharuskan kami pintar-pintar mengatur keuangan rumah tangga. 

Kami sampai sempat mengikuti kelas finansial bersama yang menjadi titik mula kami membuat pos-pos pengeluaran untuk kehidupan pernikahan nanti. Alhamdulillah segala ketidaksepakatan finansial yang kami temukan bisa kami cari bersama solusinya sebelum menikah.

Topik Seputar Kesehatan

Kesehatan disini bukan hanya terkait kesehatan fisik pribadi ya, namun juga mencakup kesehatan keluarga secara keseluruhan termasuk kesehatan mental. Sebagai orang yang bekerja di bidang kesehatan, saya perlu tahu riwayat kesehatan pasangan hingga keluarga pasangan agar saya bisa mencegah semaksimal mungkin hal-hal yang tidak diinginkan dimasa depan nanti. Misalnya nih di keluarga ada yang mempunyai riwayat diabetes, kanker, jantung dsb yang mungkin saja merupakan penyakit keturunan, berarti hal maksimal yang bisa saya lakukan adalah mengatur pola hidup yang sehat dan menghindari pemicu-pemicu penyakit tersebut. Sisanya serahkan kepada Allah, yang penting kan kita sebagai makhluk sudah berusaha maksimal. 

Selain itu saya juga banyak bertanya pertanyaan absurd sih seperti misalnya kalau seandainya saya kena sakit yang menyebabkan saya ngga bisa beraktivitas normal gimana? dia mau ngga tetap jagain saya dan sama saya? Alhamdulillah secara teori jawabannya sih bisa saya terima dan bikin saya makin yakin berumah tangga sama dia. Kenapa sih yang kayak gitu ditanyain segala? Ya pengen tahu aja gimana pemikirannya soal itu karena hidup dimasa depan kan ngga ada yang tahu. Tapi mari selalu berdoa semoga kita semua selalu diberi kesehatan baik rohani maupun jasmani oleh Allah SWT, Aamiiin.

Topik Seputar Anak

Kalau soal ini, pembicaraan memang lebih banyak berandai-andai. Saya nanya soal pendapatnya gimana seandainya ada salah satu yang ngga bisa punya anak, atau lama dikasih anaknya, bagaimana solusinya. Bagaimana kalau nanti dapat ujian melalui anak. Atau bagaimana visi misi dia dalam mendidik anak. Karena kita berdua datang dari keluarga yang berbeda, pasti ada pola yang berbeda dalam mendidik anak yang didapat dari pengalamannya dimasa lalu. Tapi intinya, kami sepakat apabila memiliki anak nanti, kami berdua harus banyak belajar dari sumber yang terpercaya (bukan hanya 'katanya... jaman dulu..') jadi kalau berbeda argumen nanti alasannya bisa valid dan bukan cuma mitos mitos aja.

Topik Seputar Impian Pribadi

Sebagai daydreamer, saya punya banyak sekali list hal yang ingin saya lakukan dalam hidup saya. Tapi nanti saat sudah berkeluarga, tentu semua itu hanya bisa dilakukan atas izin suami. Penting buat saya mencari pasangan hidup yang mampu mendukung mimpi-mimpi saya nanti dan juga sebaliknya. Alhamdulillah menikah tidak membuat saya dan suami harus memadamkan segala mimpi yang kami pribadi miliki dan rencanakan dari jauh-jauh hari. Memang harus ada yang di adjust beberapa, namun hal tersebut tidak masalah bagi kami.

Selain hal-hal diatas, tentu masih banyak lagi hal yang kami bahas sebelum menikah seperti misalnya saling memahami hak dan kewajiban dari peran yang akan kami jalani nanti. Tapi daripada postingannya kepanjangan dan bacanya jadi males, jadi mending dibahas lagi pada postingan lainnya aja ya :).

Rabu, 17 Juli 2019

Random thoughts about future

Hi! Postingan blog kesekian dalam waktu beberapa hari, itu tandanya saya lagi gabut! Hahaha.
Ya tapi emang lagi libur sih, dan jujur saya sangat menikmati masa liburan ini dengan baca-baca random things, blog-rolling, nonton series, dan main sama teman-teman.

Semakin banyak baca dan blog-rolling, pikiran random saya semakin kemana-mana. Dan akhirnya segala yang dibaca didiskusikan ke Adri mulai dari rumah impian dimasa depan (kalau umurnya panjang), sekolah anak nanti dimana (padahal anaknya juga belum ada), dan hal-hal yang ingin dilakukan selesai sekolah spesialis nanti.

Rumah Impian

Sebagai anak rumahan dan penganut 'happiness is homemade' saya selalu bercita-cita mau membangun rumah senyaman mungkin dan harus selalu penuh cinta antar anggota keluarga. Karena itu dari sekarang udah bilang ke Adri, nanti kalau sudah ada rezekinya, bangun rumah yang niat sekalian dengan referensi desain seperti dibawah ini:






Properti milik drg. @isviandina

Semoga kurang dari 10 tahun ke depan bisa terlaksana ya? Kenapa kok 10 tahun lama banget? Ya karena sekarang saya nya aja masih sekolah dan Adri masih mau ambil sertifikasi ini itu. Jadi biaya yang ada fokus untuk pendidikan dahulu baru deh nanti kalau sudah lulus mulai nabung untuk rumah impian ini. Doakan ya! :)


Sekolah Anak

Selain rumah impian, sekolah anak adalah topik paling absurd yang saya bahas sama Adri belakangan ini. Kenapa absurd? Ya gimana, anaknya aja belum ada udah mikirin sekolahnya 😂😂. Yah mungkin ini karena saya kebanyakan baca blog ibu-ibu plus saya juga penganut 'if you fail to plan, you plan to fail' jadinya obrolan soal sekolah anak udah dibahas dari sekarang haha. Ngga apa lah ya, sama suami sendiri ini ngobrol ngalor ngidulnya jadi sah-sah aja (justifikasi).

Inti dari yang saya baca adalah milih sekolah anak tuh berdasarkan nantinya mau dikuliahin dimana (lho makin jauh). Maksudnya, mau kuliah di dalam negeri, atau luar negeri? Kalau mau kuliahin diluar negeri, berarti pilih sekolahnya yang kurikulum internasional sejak dini biar terbiasa. Sebagai produk kurikulum dinas pendidikan, saya belum ada bayangan output anak yang disekolahin dengan kurikulum international itu gimana, jadi nanti pasti pas anaknya udah beneran mau sekolah baru cari tau lebih gencar lagi.

Tapi sebenernya yang paling penting tetap pendidikan dari keluarga inti. Saya sama Adri sepakat kalau punya anak nanti, salah satu yang paling penting adalah kita ngga mau anak tersebut put his/her value based on money/appearance. Serem rasanya kalau baca postingan jouska soal pergaulan anak SD (catet ya, SD) yang ngomonginnya soal bagus-bagusan tempat liburan, atau bagus-bagusan barang yang dipake. Kalau barang yang dipakai less branded or even ga branded, dibully atau bahkan ngga diajak temenan. Sedih ngga sih? 

Pokoknya nanti dimanapun sekolahnya, yang penting attitude-nya harus baik. Dia harus mengerti value dirinya dan apa tujuan hidupnya nanti. Nah orang tuanya juga ngga boleh berhenti belajar karena tanggung jawab jadi orang tua itu seumur hidup. 

((Pembahasan berat)).

Oke, sekian pembicaraan soal anak kali ini karena lagi-lagi anaknya sebenernya belum ada, jadi mari lanjutkan tulisan seputar ini di waktu yang tepat! LOL.


Sebenernya masih banyak banget yang pengen saya tulis mumpung lagi mood. Tapi saya lapar belum sarapan, jadi mau sarapan dulu ya! Bye, see you in the next post!

For every half, there's a whole. For every hand, there's one to hold. For every poem, there's a meaning & every chance starts with believing